Rabu, 21 Oktober 2015

LINGKAR UKHUWAH


Dalam lingkar itu, kita saling bertegur sapa
Dalam ukhuwah itu, kita mencoba memahami berbagai makna
Dalam lingkar ukhuwah itu, akhirnya kita menyadari bahwa bersama tak mesti sama
Akan ada banyak perbedaan yang kita selami di dalamnya
Bahkan seringkali kita harus memperpanjang dan memperpendek irama diantara kita
Tuk mengerti makna lingkar ukhuwah ini
Sungguh, banyak lingkar di luar sana yang begitu memikat
Namun, aku tau bahwa aku tak ingin menjadikan ini sebagai pilihan
Aku ingin lingkar ini menjadi tujuan
Meski terkadang hati ini mengeluh bosan
Allah, mengatur hati ini tak bosan berada di dalamnya
Sedalam apapun menyelami lingakaran lain di luar sana
Dia mengatur hati ini,
Lingkar ini selalu di rindukan
“Tak peduli selelah apapun di dalamnya, asal lillah semua insyaAllah berkah”
Begitu sering aku mendengarnya  


Selasa, 20 Oktober 2015

MASA DEPAN


“Masa depan seperti apakah yang kamu inginkan?”

Pernahkah dirimu mendapatkan pertanyaan demikian? Aku sering.
Kebanyakan wanita, mempersempit topik ini dengan membahas pernikahan.
Yang sering, tentang obrolan suami masa depan. Agaknya, hidup setelah menikah terasa jauh lebih indah karena akan banyak waktu yang dihabiskan bersamanya. Entahlah, kupikir itu sesuatu yang terlalu rumit untuk diperbincangkan. Atau aku yang terlalu memikirkan?
Ku pikir aku masih terlalu sayang teramat sangat pada dua lelaki terbaikku, bapak dan adik lelakiku. Lalu mampukah aku tuk berbagi rasa?
Ku pikir, ketika aku sering mendapati kamarku yang berantakan, pantaskah aku mendapatkannya?
Ketika menyadari aku belum cukup mampu untuk memasak, pantaskah aku berharap tuk segera bersanding dengannya*?
Ketika aku belum cukup mampu untuk mengerjakan tugas kuliah, hafalan, murojaah Al Quran dengan baik, pantaskah aku menjadi seorang Ibu ?
Ketika aku mendapati diri ini begitu sangat membosankan, mampukah menjaga kesetiaan?
Entahlah, rasanya itu bahasan yang terlalu rumit. Hanya bisa menjadi lebih baik lagi dan lagi.

Ku pikir masa depan itu membangun peradaban. Karenanya butuh banyak hal yang harus dipersiapkan.

Senin, 19 Oktober 2015

DI BALIK DINDING INI

Di balik dinding ini, aku mendengar semilir angin
Di balik dinding ini, aku bisa menyepi. Menyendiri di tengah hiruk pikuk aktivitas kampus yang begitu melelahkan.
Di balik dinding ini aku dapat memandangmu lagi, langit.
Di balik dinding ini, akan ku ceritakan kisahku hari ini padamu langit.
Aku hampir tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada diriku belakangan ini. Terlebih untuk hari ini. Rasanya aku ingin menangis, dan mempertanyakan mengapa aku harus begini? Mungkin ini adalah aku yang sedang lemah, resah dan tak tentu arah. Ya Rabb, aku tak bisa mengerjakan soal UTS hari ini. Dan hatiku, seperti dingin tiada berarti. Mengapa begini? Mengapa seolah aku biasa saja, santai bak seolah tak terjadi apa-apa. Bukankah harusnya aku sedih? Mungkinkah.. hati dan pikiran ini tak lagi meyatu?
Ya Rabb, ijinkan aku memiliki hati yang baru
Yang mampu tuk melihat pancaran cahayaMu
Ya Rabb,
Aku malu atas nikmat yang Engkau berikan padaku
Kau hadirkan orangtua yang begitu berjasa dalam hidupku, teman-teman yang begitu baiknya, lingkungan yang mendukung perjuanganku.
Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?
Ya Rabb, restuilah aku tuk dapat hati yang baru, yang mampu mendekatkan diri kepadamu.
Yang mampu menjadi terbaik, bagiMu, bagi orangtuaku, dan teman-temanku.
Dan langit,,

Kau menjadi saksi atas hatiku yang sendu sore ini.

Selasa, 29 September 2015

Dalam Dekapan Ukhuwah (Salim A Fillah)



Karena beda antara kau dan aku sering jadi sengketa
karena kehormatan diri sering kita tinggikan di atas kebenaran
karena satu kesalahanmu padaku seolah menghapus
sejuta kebaikan yang lalu
wasiat Sang Nabi itu rasanya berat sekali:
“jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara”
mungkin lebih baik kita berpisah sementara, sejenak saja
menjadi kepompong dan menyendiri
berdiri malam-malam, bersujud dalam-dalam
bertafakkur bersama iman yang menerangi hati
hingga tiba waktunya menjadi kupu-kupu yang terbang menari
melantun kebaikan di anatara bunga, menebar keindahan pada dunia
lalu dengan rindu kita kembali ke dalam dekapan ukhuwah
mengambil cinta dari langit dan menebarkannya di bumi
dengan persaudaraan suci: sebening prasangka, selembut nurani,
sehangat semangat, senikmat berbagi, dan sekokoh janji.
“Kita kadang merasa lebih benar, lebih baik, lebih tinggi, dan lebih suci dibanding mereka yang kita nasehati.
Hanya mengingatkan kembali kepada diri ini: jika kau merasa besar, periksa hatimu. Mungkin ia sedang bengkak.
Jika kau merasa suci, periksa jiwamu. Mungkin itu putihnya nanah dari luka nurani.
Jika kau merasa tinggi, periksa batinmu. Mungkin ia sedang melayang kehilangan pajakan.
Jika kau merasa wangi, priksa ikhlasmu, mungkin itu asap dari amal shalihmu YANG HANGUS DIBAKAR RIYA’.”
“Semua orang yang ada dalam hidup kita,
masing-masingnya, bahkan yang paling menyakiti kita
diminta untuk ada disana
agar cahaya kita dapat menerangi jalan mereka”
“Keputusan yang salah dari sebuah musyawarah, jauh lebih baik daripada pendapat pribadi, betapapun benarnya”
“Bersabarlah, dalam syuraa, juga dalam dekapan ukhuwah”
“Dalam dekapan ukhuwah, kelembutan nurani menuntun kita untuk menjadi anak Adam sejati; memiliki kesalahan, mengakuinya, memperbaikinya, dan memaafkan sesama yang juga tak luput dari khilaf dan lupa…”
“Ada banyak hal yang tak pernah kita minta
tapi Allah tiada alpa menyediakannya untuk kita
seperti nafas sejuk, air segar, hangat mentari,
dan kicau burung yang mendamai hati
jika demikian, atas doa-doa yang kita panjatkan
bersiaplah untuk diijabah lebih dari apa yang kita mohonkan”
“ jika Muhammad berfikir sebagaimana engkau menalar
Tidaklah ia punya banyak saat untuk memilih berhenti?
Tapi Muhammad tau, kawan
Ridha Allah teletak pada sulit atau mudahnya
Berat atau ringannya, bahagia atau sedihnya
Senyum atau lukanya, tawa atau tangisnya”
“ ridha Allah terletak pada Apakah kita menaatiNya dalam menghadapi semua itu
Apakah kita berjalan dengan menjaga perintah dan larangan Nya  dalam semua keadaaan dan ikhtiar yang kita lakukan”
“maka selama di situ engkau berjalan bersemangatlah kawan …”
“Dalam dekapan ukhuwah, kita mengambil cinta dari langit. Lalu menebarkannya di bumi.”

“sungguh KITA SEDANG BERCERMIN
menjadi CERMIN BAGI SAUDARA-SAUDARA KITA TERCINTA
layaknya UMAR R.A. bercermin pada seorang ABU BAKAR RA”








Kamis, 10 September 2015

My passion

PEDULI DHUAFA
" Menebar kasih merajut ukhuwah "

Setelah sekian lama sibuk dengan rutinitas kampus yang bikin aku kepisah jaaauh banget sama kamu. Iya kamu ( blog-e dhewe padahal ). kampus memang bikin aku jadi jarang banget menorehkan kata tentang kisahku dalam halaman blog ini.
Jujur, itu judul yang buat aku jadi lamaaa banget ninggalin waktu buat nulis. Alhamdulillah pas lagi sore-sore gini ada waktu lowong buat ceritain kegiatan aku sekalian promo hehehe.
Jadi Peduli Dhuafa itu organisasi kampus yang aku ikutin, berada di bawah kompartemen Mizan FEB Undip (https://twitter.com/mizanfebundip).
 Dari nama udah keliatanlah ya kalo dia bergerak di bidang sosial. Nah apa aja sih kegiatan di Peduli Dhuafa??
Jadi Peduli Dhuafa ini punya banyak banget kegiatannya :
1. Donor darah. ini kegiatan yang diagendain setahun sekai di FEB UNDIP. Jadi ini memfasilitasi temen-temen mahasiswa yang mau donor darah, sekalian berbagi darah pada sesama.
2. Taman bintang. ini kegiatan rutin bulanan PD (baca Peduli Dhuafa) menyantuni adik-adik panti, jadi kita bisa main bareng, buka bersama, buat hasta karya dan berbagi ilmu ke adik-adik tercinta.
3. Sarasehan. ini kegiatan buat memperkuat ukhuwah para PD Rangers.
4. Seroja ( Seru-seruan bareng anak jalanan), Setahhun sekali juga.
Mau tau serunya kegiatan Peduli Dhuafa?? Klik https://pedulidhuafafeundip.wordpress.com/ :)








Rp 40.000


"Uang ibarat cermin yang tidak memiliki warna,
 namun dapat merefleksikan semua warna"
Al-Ghazali (Ihya, 4:91-93)


Mungkin bagi seorang yang berduit,  Rp 40.000 bukanlah nilai yang begitu mahal. Namun bagi sebagian orang  tentu nilai itu sangat berharga.
Suatu sore di bulan Ramadhan, toko kami cukup dipadatkan oleh banyak pembeli. Saat itu saya mendapat jatah untuk menjaga toko, dan ini adalah suatu hal yang saya syukuri karena saya diberi jatah oleh Allah untuk menyaksikan kejadian berikut ini.
Saat kondisi toko lumayan sepi, ada seorang ibu dan anaknya masuk untuk memilih aneka kue kering yang akan dibeli. Awalnya sang ibu memilih stik bawang ukuran ¼  kg dan twister untuk dibelinya. Kemudian ia menawarkan kepada sang anak, untuk membeli satu makanan yang disenanginya. Saya menunggu beberapa saat, dan melihat apa yang akan dipilih anak tersebut. Selang beberapa menit anak laki-laki itu datang kemeja kasir dan membawa setoples kue nastar.
Melihat wajahnya yang polos, dengan penuh harap ia mengatakan, “ Ibu adik milih yang ini ya? ”
“ Adik yakin mau pilih yang ini? ”, tanya sang Ibu ragu, setelah ia melihat bahwa label kue tersebut Rp 40.000.
“ Yakin bu, kue ini sangat enak! Dilihat dari bentuknya saja sudah tampak begitu lezat “ , katanya sambil merajuk
“ Kue ini mahal lho, sayang kalau nanti tidak adik habiskan ” kata Sang Ibu
“ Kebetulan ada tester untuk kue nastar ini bu, silahkan untuk dicicipi, “  kataku sambil menyodorkan setoples tester kue nastar yang ada di depan meja kasir.
Aku memandang anak itu. Ia tampak begitu girang, saat mencicipi nastar isi nanas itu.
“ Coba bu, coba.. betapa rasa kue ini begitu enak ” Kata anak itu, memandang ibunya dengan mata berbinar-binar
Sang Ibu hanya diam.
Beberapa saat kemudian, Sang Ayah masuk ke toko.
“ Yah, adik ingin beli kue ini. Dia suka, kuenya enak “ kata ibu itu sambil menyodorkan toples nastar berlabel Rp 40.000 itu ke suaminya, seolah meminta pertimbangan.
“  Ya sudah, kita beli ini saja. Yang penting dia suka “ sahut suaminya
Singkat cerita, akhirnya sang Ibu mengembalikan semua barang yang dipilihnya tadi ke rak semula, dan sang Ayah membayar kue nastar tersebut.
Saya di sini masih memandangnya.
Ya, anak kecil itu memegang erat kue pemerian orang tuanya. Dan ia nampak begitu senang.
-.-.-
Mungkin kisah tadi merupakan salah satu potret nyata, betapa orang tua yang baik tentu sangat meyayangi anaknya, dan memberikan yang terbaik bagi kebahagiaan anaknya.
Terkadang hikmah tak harus diambil dari hal-hal besar karena adakalanya hikmah dapat kita ambil dari hal-hal kecil, selagi hati kita masih terbuka

HIJRAH

Setelah sekian lama nggak aktif nulis lagi..
Akhirnya aku memutuskan untuk berhijrah, seiring dengan umur yang kian dewasa
Berharap kedewasaan mapu membuat rangkaian kata yang penuh makna
Menempa hati menggugah jiwa
Meski bukti hijrahku tak harus dengan blog yang baru. Biarlah yang lalu menjadi hikmah kedepan, untuk masa depan yang lebih baik. Aamiin